LPM BHANU TIRTA

Monday, 9 February 2026

Negeri yang Menoleh Kuasa, Melupa Cinta

              

Bersahaja ia melangkah di lorong gelisah

membawa wibawa seolah tak tergoyah

menyampirkan kabar tanpa cermin kaca

ringan di tangan, berat di dada manusia.


Tak pernah terlintas wabah menjelma bara

membakar hari, menyesakkan udara

pilihan demi pilihan terus bersambung

tanpa sanjung, tanpa ujung, hanya menggulung.


Kebijakan berdiri di menara kata

keputusan ditimbang tanpa rasa

tanggung yang dijanjikan kian menjauh

palung masalah makin dalam, tak juga runtuh.


Mengapa seruan manusia tak pernah sampai?

suara berbaris, gugur sebelum usai

bagai angin lalu yang singgah sebentar

padahal beban dipikul punggung-punggung sabar.


Apakah cukup mulut menyulut harapan?

apakah kata sanggup menghapus tekanan?

Tengoklah ke bawah, di sana asa terkulai

digantung lelah, diikat gundah yang usai tak sampai.


Lihat manusia yang kian terhimpit

hari dihabiskan dalam kabut yang sempit

di antara makhluk transparan tak berperi

menelan damai, menggerogoti rezeki.


Sudahilah drama penumbuh angkara

jangan biarkan luka jadi warisan bangsa

bebaskan kembali denyut ekonomi negara

beri ruang bernapas bagi pencari asa.


Sebab, bukankah dulu lantang dikata

di mimbar janji yang penuh cahaya  

negeri yang berdiri atas cinta

bukan sekadar kuasa yang lupa rasa.


Penulis: Adha Rizki Saputra

Wednesday, 28 January 2026

Persimpangan

 

                                            Pinterest


Kita memang berbeda

tak seperti selayaknya; kekasih

Selalu terpisah oleh jarak


Jarak yang memberi,

keahlian saling mengerti

keahlian merawat rindu

dan terbiasa tak bertemu


Hingga pertemuan menjadi petaka

Berpisah di persimpangan

Memilih jalan yang tak sama

Sama-sama masuk ke jalan yang berbeda


Terus jalan,

Melewati banyak belokan

Tikungan, perempatan, dan persimpangan


Hingga pertemuan kedua,

Kita kembali di jalan yang sama

Berpegangan menuju persimpangan

Menata keyakinan, kembali berjalan

Melewati dengan keyakinan


Sempat kita saling pergi

Tapi selalu saling kembali

Di titik ini kita berdiri,

Menghadapi persimpangan lagi


Tak ada janji yang terlalu tinggi

Hanya langkah pelan yang kita pilih

Kadang ragu, kadang ingin berhenti

Tapi tetap berjalan meski tak pasti


Jika nanti persimpangan datang lagi,

Kita tahu, pergi bukan satu-satunya arti

Ada diam yang harus dipahami

Ada tinggal yang harus disadari


Jika akhirnya kita sampai di ujung,

Bukan karena jalan selalu lurus

Tapi karena kita memilih,

Untuk tetap berjalan bersama.


Penulis: Chintya Putri P.

Editor: Nanda Sania

Utuh?

 

                                        Pinterest

Tubuhku lemah,

Ragaku hilang arah

Perasaanku? sudahlah

Diriku sendiri menyerah


Betapa banyak kekosongan,

Yang bahkan merenggut kesadaran

Sungguh, bahkan aku tidak menyadari

Kehilangan arah pun tujuan, diri ini.


Berapa banyak yang harus ku isi?

Berapa banyak yang harus ku ganti?

Agar semua rumpang ini kembali utuh

Agar semua kosong kembali penuh 


Tak terasa hangat nyala api 

Tak terasa hangat rasa dihati

Bukan sengaja aku hingga melupa

Ada raga lain yang tengah berusaha


Tuan, biarkan aku nyalakan hangat ini

Biarlah aku yang berusaha menyakini 

Bahwa raga ini mampu, 

raga ini mau.


Diraihnya hangat itu,

dihidupkan kembali nyala api hangat

Hingga, raga ini mematung sesaat


Hangat.

Tiada dibiarkannya raga ini terlalu mendekat

Meraup segala kekosongan, hingga

aku merasa utuh, juga penuh.


Penulis: Dewi Nur Laila

Editor: Nanda Saniaroh

Wednesday, 31 December 2025

Keluhkan Sumber Air Sulit: Warga Dusun Gambaranyar Andalkan PAMSIMAS Sebagai Solusi

 

Aliran Sungai Bladak di Lereng Gunung Kelud,
28/12/25, (Foto: LPM Bhanu Tirta)

Persma Bhanu Tirta - Bermukim di dataran tinggi khususnya perbukitan membuat warga Dusun Gambaranyar, Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, kesulitan mendapatkan air. Hal ini memicu terjadinya keresahan warga akibat krisis air. Sumber air yang tersedia berada jauh di dalam hutan, tepatnya ada di sebelah timur perkampungan, Minggu, (28/12/2025).

“Itu kan (sumber) sumur resapan ya mas, dari akar-akar pohon yang ada di hutan, jadi untuk kebutuhan desa ya kurang mencukupi" Jelas Kepala Dusun Gambaranyar, Eko Novianto pada 28/12/25.

Letak geografis Dusun Gambaranyar yang berada di dataran tinggi, Lereng Gunung Kelud, membuat sumber air jauh berada di bawah tanah. Sehingga jika melakukan pengeboran sumur, harus membuat lubang yang cukup dalam.

Eko menjelaskan, masyarakat sempat mengeluhkan sulitnya mencari sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan hasil musyawarah pemerintah desa bersama masyarakat, akhirnya pada tahun 2011 terbentuk kelompok Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Masyarakat (PAMSIMAS).

"Masyarakat Desa Sumberasri pernah mendatangi perangkat desa setempat untuk mengeluhkan adanya krisis air mas," Ujar Pria berusia 30-an tersebut.

Pengambilan sumber air oleh PAMSIMAS berasal  dari Sungai Bladak yang berada di sebelah utara candi Gambarwetan. Pengambil air tersebut menggunakan pipa berdiameter 3 inci yang melewati lereng-lereng perbukitan.

Melalui pengairan tersebut, dapat mencakup 3 desa atau sekitar 330 Kepala Keluarga (KK). Sedangkan di Desa Sumberasri sendiri terdapat 120 KK yang terdaftar pada data PAMSIMAS. Mengenai biaya perawatannya, pemerintah desa menggunakan sistem berbayar senilai Rp. 10.000 per-KK dan beberapa menggunakan sistem meteran.

 

Penulis: Neha, Diah, Bahrul, Kana, Laila

Editor: Fufut Shokhibul


Monday, 29 December 2025

HIRUK TAMBANG PASIR: MUNCULKAN DAMPAK NEGATIF BAGI WARGA HINGGA ANCAMAN BAGI CANDI GAMBARWETAN


Aktivitas Pertambangan di Aliran Lahar Gunung Kelud
28/12/25, (Foto: Dina)

Persma Bhanu Tirta - Aktivitas penambangan pasir dan batu di Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, masih terus berlangsung dan menjadi salah satu keresahan masyarakat setempat. Di sepanjang aliran sungai, truk-truk pengangkut material hilir mudik setiap hari, menandai hidupnya sektor tambang yang telah lama dilakukan, Minggu, (28/12/2025) 

Dampak dari pertambangan sudah cukup parah, tidak memungkinkan untuk dilakukan aktivitas pertambangan kembali. Selain merugikan masyarakat sekitar karena menghasilkan polusi, tambang pasir ini mengancam kelestarian Candi Gambarwetan yang berada tepat di sebelah lokasi pertambangan.

Sejumlah warga mengaku aktivitas tambang telah lama dikeluhkan. Bahkan, persoalan tersebut disebut pernah dilaporkan kepada aparat penegak hukum, namun hingga kini kegiatan penambangan masih terus berjalan.

Sakjane wes tau dilaporke neng polisi mas, tapi panggah ngengkel ae, (sebetulnya sudah pernah dilaporkan ke polisi mas, tapi tetap berjalan terus),” Ujar warga di sekitar tambang yang enggan disebutkan namanya.

Terlebih lagi area yang akan berdampak apabila permasalahan ini berlanjut adalah desa Pacuh dan sekitarnya. Dampaknya bukan hanya berasal dari kegiatan pertambangan itu sendiri, namun bisa juga pada situasi gunung Kelud yang masih aktif hingga sekarang.

Bangunan Candi Gambarwetan yang masih dalam proses pemugaran juga terancam runtuh. Sejumlah pihak menilai aktivitas tambang di sekitarnya perlu mendapat pengawasan ketat agar tidak berdampak pada kelestarian situs budaya tersebut.

Meski demikian, pihak pengelola cagar budaya menyatakan hingga saat ini belum pernah terjadi konflik langsung antara aktivitas pertambangan dengan keberadaan Candi Gambar Wetan.

“Kalau konflik antara cagar candi dengan penambangan yang berada di sampingnya itu tidak pernah terjadi Mas,” Jelas salah satu petugas Cagar Candi Gambar Wetan yang enggan disebutkan namanya.

Petugas candi dan warga setempat berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat mengambil langkah tegas dan bijak dalam menyikapi persoalan ini. 

Penertiban perizinan serta pengawasan terhadap dampak lingkungan dinilai penting agar kelestarian Candi Gambarwetan tetap terjaga, sekaligus kenyamanan masyarakat sekitar tidak terganggu oleh aktivitas pertambangan.

 

Penulis: Kamal, Syahdan, Dina, Zahra, Sofia

Editor: Fufut Shokhibul