Merawat Ingatan Kekerasan Negara! Warga Sipil Blitar Gelar Nobar dan Diskusi Film “Semakin Ditekan, Semakin Melawan”
LPM Bhanu Tirta. Puluhan warga gelar nobar dan diskusi film
dokumenter “Semakin Ditekan, Semakin Melawan” di Pendopo Kantor Kabupaten
Blitar. Kegiatan ini adalah salah satu rangkaian kegiatan “Rebut Ruang Publik
#2” yang diinisasi oleh belasan komunitas Masyarakat sipil pada Minggu sore
hingga malam. (28/09/2026).
Film yang digarap oleh tim Koreksi.org ini mengulas rentetan
penangkapan, kriminalisasi, hingga kekerasan terhadap aktivis oleh aparat penegak hukum yang terjadi pasca
aksi demonstrasi pada bulan Agustus 2025. Tim Koreksi.org mencatat sebanyak 6.719
orang ditangkap secara massal dengan pola-pola yang sama, yakni dituduh sebagai
provokator dan dalang kerusuhan. Hal ini terhitung sebagai rekor kelam 2 tahun
pemerintahan Prabowo-Gibran dan bahkan mengalahkan kriminalisasi terhadap
aktivis pada masa Orde Baru.
Film ini juga menyoroti kesaksian beberapa aktivis yang
dipaksa untuk mengaku sebagai perusuh dengan diintimidasi oleh aparat. Kesaksian
Khariq Anhar, salah satu aktivis yang dikriminalisasi, mengungkapkan mengalami
intimidasi hingga pingsan.
Usai pemutaran film, kegiatan disambung dengan diskusi
interaktif yang dipandu Puri, komunitas Verderose, dan dipantik Jesus Anam,
penggerak Sekolah Filsafat Jalanan.
Jesus menganalisa bahwa, dalam film ini menjelaskan
bagaimana negara membungkam suara dan kritik masyarakat dengan berbagai cara.
“Negara sering membangun ketakutan kepada rakyatnya dengan
mengirim terror hingga kekerasan kepada aktivis yang dikriminalisasi,”ucapnya.
Jesus menjelaskan, negara selalu mempertontonkan praktik
pelanggaran HAM dengan membatasi ruang gerak dan suara publik dan negara
mengartikan itu adalah gangguan.
“Rakyat membayar pajak, namun rakyat tak boleh mengkritik.
Kritik itu adalah hak warga negara yang dilindungi undang-undang, sedangkan
negara membahasakan kritik adalah ancaman terhadap kedaulatan,” ujarnya.
Reyda Hafis, selaku koordiantor acara juga menyampaikan
bahwa dengan segala kokohnya rezim ini, butuh adanya nafas perlawanan yang
cukup panjang. Ia menandai perlu adanya diskursus yang dibangun oleh
organisasi-organisasi Gerakan mahasiswa sebagai pemantik perlawanan
kesewenang-wenangan.
“Hari ini kita didaerah pinggiran, perlu adanya produksi
wacana dari organisasi-organisasi mahasiswa sebagai pengingat dan pemantik
Gerakan agar tak padam,” utasnya.
Perlu diketahui, dalam rangkaian gelaran “Rebut Ruang Publik
#2” diawali sejak sore hari dengan agenda pasar gratis sebagai wadah
tukar-menukar sandang dan pangan secara percuma. Selain itu juga menyediakan
wahana bacaan untuk masyarakat umum berupa lapak baca gratis.
Penulis: Bima D. Baskara
Editor: Farid Adrian


