LPM BHANU TIRTA

Friday, 6 March 2026

UNU Blitar Gelar Ngaji Ramadhan, Kupas Keselarasan Tradisi Islam dan Budaya Islam

Ngaji Ramadhan di Kampus 1 UNU Blitar 
05/03/2026 (LPM Bhanutirta Tirta)

Persma Bhanutirta Tirta— Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar kegiatan Ngaji Ramadhan 1447 H bertema "Ngaji Aswaja: Merawat Tradisi, Membangun Peradaban" di Aula Lantai 3 Kampus 1 UNU Blitar, Kamis (5/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan KH. Ma'ruf Khozin sebagai pemateri utama.

Dalam kajiannya, KH. Ma'ruf Khozin menekankan bahwa budaya Jawa dan ajaran Islam sejatinya memiliki keselarasan yang mendalam keduanya hanya berbeda dalam penyebutan dan istilah, bukan pada nilai dan substansinya. Hal ini tampak misalnya pada sistem penanggalan, di mana kalender Jawa dan kalender Hijriyah berjalan di atas fondasi yang sama.

"Kalender Jawa itu tidak lahir dari ruang kosong. Kalau kita telusuri, strukturnya banyak yang selaras dengan penanggalan Hijriyah. Masyarakat Jawa dulu sudah menjalankan nilai-nilai Islam, hanya dengan bahasa dan istilah yang berbeda," ujar KH. Ma'ruf Khozin.

Keselarasan yang sama juga tercermin dalam tradisi yang berkaitan dengan orang yang telah wafat. Membaca Surah Yasin, ziarah kubur, hingga bersedekah atas nama almarhum bukan sekadar kebiasaan turun-temurun melainkan amaliah yang memiliki pijakan dalam ajaran Islam sebagai bentuk doa dan kasih sayang kepada mereka yang telah tiada.

"Ketika kita membacakan Yasin, berdoa, atau bersedekah untuk orang yang sudah meninggal, itu bukan sekadar ritual. Itu adalah bentuk kasih sayang yang kita kirimkan kepada mereka dan Islam mengajarkan bahwa pahala dari amal tersebut bisa sampai kepada yang telah wafat," tambahnya.

Salah satu peserta, Risma, mengungkapkan motivasinya mengikuti kajian tersebut. "Saya mengikuti kegiatan Ngaji Ramadhan ini karena ingin menambah pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran Islam, terutama mengenai amaliah dan tradisi dalam Islam yang memiliki dasar dalil," tuturnya.

Ia mengaku mendapat banyak wawasan baru dari kajian tersebut. "Hal paling berkesan yang saya dapatkan adalah pemahaman bahwa banyak tradisi yang sering dilakukan di masyarakat sebenarnya memiliki dasar dalam ajaran Islam. Hal ini membuat saya semakin menghargai tradisi keagamaan dalam masyarakat, khususnya dalam tradisi Ahlussunnah Wal Jamaah," tambahnya.

Melalui kegiatan ini, pesDian erta diharapkan semakin memahami bahwa tradisi dan budaya lokal yang berkembang di masyarakat bukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam, melainkan bagian dari warisan peradaban yang perlu dirawat dan dipahami secara bijak.


Penulis: Dian Khusnul Hanifah

Editor: Nanda Saniaroh

Pasangan Calon BEM UNU Blitar Paparkan Visi Misi dalam Forum Nawa Cita Demokrasi


Penyampaian Visi Misi oleh Calon BEM UNU Blitar 
05/03/2026 (Foto LPM Bhanutirta Tirta)

Persma Bhanu Tirta - Kegiatan Nawa Cita Demokrasi yang diselenggarakan oleh KPRM Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menjadi wadah bagi pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua BEM untuk menyampaikan visi dan misi mereka kepada mahasiswa. Kegiatan ini berlangsung pada 5 Maret 2025 di Kampus 1 Lantai 3 Universitas Nahdlatul Ulama Blitar dengan mengusung tema “Membedah Langkah Nyata untuk Mahasiswa.”

Acara tersebut menghadirkan pasangan calon Ketua BEM Khabibulloh dan Wakil Ketua BEM Dzakiya. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor 3 yang diwakili, ketua pelaksana kegiatan, serta para peserta yang merupakan calon Ketua HIMA dari berbagai program studi di lingkungan UNU Blitar.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Wahab Firmansyah-Ketua Pelaksana kegiatan serta Sabiq Najibburohman sebagai perwakilan Wakil Rektor 3. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pemaparan visi dan misi oleh pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua BEM, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif bersama para peserta.

Calon Wakil Ketua BEM, Dzakiya, menegaskan komitmennya untuk menjadi penghubung antara mahasiswa dan pihak kampus.

“Kami berkomitmen untuk menjadi penyalur aspirasi para mahasiswa ke kampus, dan jika ada hal-hal yang tidak ditindaklanjuti lebih lanjut oleh kampus, kami siap untuk terus mengawal,” ujarnya.

Sementara itu, calon Ketua BEM, Khabibulloh, menyampaikan bahwa keputusan mereka untuk maju dalam pemilihan BEM didorong oleh banyaknya aspirasi mahasiswa yang dirasa belum terakomodasi dengan baik.

“Ini juga jadi alasan mengapa kami berani maju. Kami sendiri merasakannya keluhan demi keluhan dari teman-teman mahasiswa yang seolah tidak pernah benar-benar didengar. Kami geram, dan kegeraman itu yang mendorong kami untuk bergerak,” ungkapnya.

Wahab Firmansyah menjelaskan bahwa tema yang diangkat bertujuan untuk mendorong munculnya gagasan konkret bagi kemajuan mahasiswa.

“Tema ‘Membedah Langkah Nyata untuk Mahasiswa’ ini kami angkat karena kami ingin semua pihak benar-benar melihat, bukan hanya mendengar  apa yang konkret bisa dilakukan untuk mahasiswa. Dan yang tidak kalah penting, kami mengajak seluruh mahasiswa untuk menyambut PEMIRA nanti dengan sportif. Apapun hasilnya, kita junjung bersama demi kampus yang lebih baik,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sabiq Najibburohman juga menyampaikan apresiasi kepada para mahasiswa yang berani maju sebagai calon pemimpin organisasi mahasiswa di tingkat universitas.

“Saya sangat mengapresiasi calon yang sudah memberanikan diri untuk maju jadi BEM. Saya berharap BEM kita bisa lebih maju lagi,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat lebih mengenal visi, misi, serta komitmen pasangan calon BEM sebelum pelaksanaan Pemilihan Raya Mahasiswa (PEMIRA). Selain itu, forum ini juga menjadi ruang dialog antara calon pemimpin mahasiswa dengan mahasiswa lainnya untuk bersama-sama membangun kampus yang lebih aspiratif dan demokratis.


Penulis: Salma Addina

Editor: Nanda Saniaroh

Thursday, 26 February 2026

Soroti Ketimpangan Sosial! Lapak Baca Ceria Gaungkan Urgensi Kehidupan Masyarakat Tanpa Kelas

 

Sesi Foto Bersama Diskusi Negara dalam Pandangan Sosialis.
( Foto: Lapak Baca Ceria)


Persma Bhanu Tirta - Diskusi Tematik yang diinisiasi oleh Lapak Baca Ceria berhasil Menyita atensi publik. Mengusung tema “Negara dalam Pandangan Sosialis", menjadikan forum begitu sesak dengan pemikiran kritis para peserta, Rabu, (25/02/2026).

 

Forum dipantik oleh Alex Cahyono, berlokasi di Kedai Kopi Satu Rasa Kota Blitar. Akibat tingginya antusias peserta, diskusi berlangsung mulai pukul 8 malam hingga pukul setengah 1 dini hari.

 

Alex memaparkan bahwa memperjuangkan kehidupan masyarakat tanpa kelas merupakan tujuan mendasar dalam konsep sosialisme.

 

“Dalam konsep sosialisme, hal pertama yang diperjuangkan ialah kehidupan masyarakat tanpa adanya kelas, mengutamakan kepentingan kolektif, yang kemudian harapannya tidak ada ketimpangan dalam sebuah struktur masyarakat atau negara,” ujarnya dengan penuh penekanan.

 

Aktivis blitar itu juga menjelaskan bahwa, sosialisme sama halnya seperti cinta. Selalu indah pada konsep, namun dalam implementasinya banyak ditemukan kekurangan.

 

“Seperti cinta, sosialisme ini sangat indah secara konsep, tapi dalam praktiknya masih banyak ditemukan kelemahan, misalnya uni soviet, pada awal masa transisi negara, banyak pertumpahan darah dan kemiskinan setidaknya 2 hingga 3 tahun,” tegasnya.

 

Ali Ma’ruf, salah satu peserta diskusi berpendapat, bahwa lewat forum ini ia dapat memahami perspektif sosialis melihat kapitalisme dan peran negara. Negara seharusnya berpihak pada kepentingan kolektif, bukan hanya bersifat netral.

 

“Jujur, berkat diskusi malam ini saya menjadi paham bagaimana perspektif sosialis dalam melihat alat-alat produksi dan peran negara, diskusi ini membuka mata saya bahwa kemiskinan dan ketimpangan itu bukan nasib, tetapi ada sistem yang mengaturnya,” pungkasnya.

 

Ia berharap diskusi mengenai literasi politik kedepannya sering diselenggarakan terutama di blitar. Mengingat, dalam upaya membangun kesadaran kolektif, harus ada forum-forum yang bersifat santai tetapi mengandung substansi didalamnya.

 

Penulis: Fufut Shokhibul

Editor: Nanda Saniaroh

Monday, 9 February 2026

Negeri yang Menoleh Kuasa, Melupa Cinta

              

Bersahaja ia melangkah di lorong gelisah

membawa wibawa seolah tak tergoyah

menyampirkan kabar tanpa cermin kaca

ringan di tangan, berat di dada manusia.


Tak pernah terlintas wabah menjelma bara

membakar hari, menyesakkan udara

pilihan demi pilihan terus bersambung

tanpa sanjung, tanpa ujung, hanya menggulung.


Kebijakan berdiri di menara kata

keputusan ditimbang tanpa rasa

tanggung yang dijanjikan kian menjauh

palung masalah makin dalam, tak juga runtuh.


Mengapa seruan manusia tak pernah sampai?

suara berbaris, gugur sebelum usai

bagai angin lalu yang singgah sebentar

padahal beban dipikul punggung-punggung sabar.


Apakah cukup mulut menyulut harapan?

apakah kata sanggup menghapus tekanan?

Tengoklah ke bawah, di sana asa terkulai

digantung lelah, diikat gundah yang usai tak sampai.


Lihat manusia yang kian terhimpit

hari dihabiskan dalam kabut yang sempit

di antara makhluk transparan tak berperi

menelan damai, menggerogoti rezeki.


Sudahilah drama penumbuh angkara

jangan biarkan luka jadi warisan bangsa

bebaskan kembali denyut ekonomi negara

beri ruang bernapas bagi pencari asa.


Sebab, bukankah dulu lantang dikata

di mimbar janji yang penuh cahaya  

negeri yang berdiri atas cinta

bukan sekadar kuasa yang lupa rasa.


Penulis: Adha Rizki Saputra

Wednesday, 28 January 2026

Persimpangan

 

                                            Pinterest


Kita memang berbeda

tak seperti selayaknya; kekasih

Selalu terpisah oleh jarak


Jarak yang memberi,

keahlian saling mengerti

keahlian merawat rindu

dan terbiasa tak bertemu


Hingga pertemuan menjadi petaka

Berpisah di persimpangan

Memilih jalan yang tak sama

Sama-sama masuk ke jalan yang berbeda


Terus jalan,

Melewati banyak belokan

Tikungan, perempatan, dan persimpangan


Hingga pertemuan kedua,

Kita kembali di jalan yang sama

Berpegangan menuju persimpangan

Menata keyakinan, kembali berjalan

Melewati dengan keyakinan


Sempat kita saling pergi

Tapi selalu saling kembali

Di titik ini kita berdiri,

Menghadapi persimpangan lagi


Tak ada janji yang terlalu tinggi

Hanya langkah pelan yang kita pilih

Kadang ragu, kadang ingin berhenti

Tapi tetap berjalan meski tak pasti


Jika nanti persimpangan datang lagi,

Kita tahu, pergi bukan satu-satunya arti

Ada diam yang harus dipahami

Ada tinggal yang harus disadari


Jika akhirnya kita sampai di ujung,

Bukan karena jalan selalu lurus

Tapi karena kita memilih,

Untuk tetap berjalan bersama.


Penulis: Chintya Putri P.

Editor: Nanda Sania