![]() |
| Ngaji Ramadhan di Kampus 1 UNU Blitar 05/03/2026 (LPM Bhanutirta Tirta) |
Persma Bhanutirta Tirta— Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar kegiatan Ngaji Ramadhan 1447 H bertema "Ngaji Aswaja: Merawat Tradisi, Membangun Peradaban" di Aula Lantai 3 Kampus 1 UNU Blitar, Kamis (5/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan KH. Ma'ruf Khozin sebagai pemateri utama.
Dalam kajiannya, KH. Ma'ruf Khozin menekankan bahwa budaya Jawa dan ajaran Islam sejatinya memiliki keselarasan yang mendalam keduanya hanya berbeda dalam penyebutan dan istilah, bukan pada nilai dan substansinya. Hal ini tampak misalnya pada sistem penanggalan, di mana kalender Jawa dan kalender Hijriyah berjalan di atas fondasi yang sama.
"Kalender Jawa itu tidak lahir dari ruang kosong. Kalau kita telusuri, strukturnya banyak yang selaras dengan penanggalan Hijriyah. Masyarakat Jawa dulu sudah menjalankan nilai-nilai Islam, hanya dengan bahasa dan istilah yang berbeda," ujar KH. Ma'ruf Khozin.
Keselarasan yang sama juga tercermin dalam tradisi yang berkaitan dengan orang yang telah wafat. Membaca Surah Yasin, ziarah kubur, hingga bersedekah atas nama almarhum bukan sekadar kebiasaan turun-temurun melainkan amaliah yang memiliki pijakan dalam ajaran Islam sebagai bentuk doa dan kasih sayang kepada mereka yang telah tiada.
"Ketika kita membacakan Yasin, berdoa, atau bersedekah untuk orang yang sudah meninggal, itu bukan sekadar ritual. Itu adalah bentuk kasih sayang yang kita kirimkan kepada mereka dan Islam mengajarkan bahwa pahala dari amal tersebut bisa sampai kepada yang telah wafat," tambahnya.
Salah satu peserta, Risma, mengungkapkan motivasinya mengikuti kajian tersebut. "Saya mengikuti kegiatan Ngaji Ramadhan ini karena ingin menambah pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran Islam, terutama mengenai amaliah dan tradisi dalam Islam yang memiliki dasar dalil," tuturnya.
Ia mengaku mendapat banyak wawasan baru dari kajian tersebut. "Hal paling berkesan yang saya dapatkan adalah pemahaman bahwa banyak tradisi yang sering dilakukan di masyarakat sebenarnya memiliki dasar dalam ajaran Islam. Hal ini membuat saya semakin menghargai tradisi keagamaan dalam masyarakat, khususnya dalam tradisi Ahlussunnah Wal Jamaah," tambahnya.
Melalui kegiatan ini, pesDian erta diharapkan semakin memahami bahwa tradisi dan budaya lokal yang berkembang di masyarakat bukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam, melainkan bagian dari warisan peradaban yang perlu dirawat dan dipahami secara bijak.
Penulis: Dian Khusnul Hanifah
Editor: Nanda Saniaroh
