Minim Partisipasi, Alarm Demokrasi Kampus UNU Blitar - LPM BHANU TIRTA

Wednesday, 11 March 2026

Minim Partisipasi, Alarm Demokrasi Kampus UNU Blitar

 

Bukti telah melakukan pemilihan 
(Foto LPM Bhanu Tirta 09/03/2026)

Persma Bhanu Tirta- Regenerasi kepemimpinan menjadi salah satu syarat utama keberlangsungan organisasi. Hal yang sama juga berlaku di lingkungan kampus, di mana organisasi mahasiswa membutuhkan pemimpin untuk menjalankan program sekaligus menjaga dinamika organisasi.

Di kampus, organisasi mahasiswa hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Himpunan Mahasiswa (HIMA), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Ormawa tidak hanya menjadi wadah aktivitas mahasiswa, tetapi juga ruang belajar kepemimpinan, diskusi, serta lahirnya gagasan perubahan. 

Bukankah mahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan?

Pemira merupakan proses pemilihan pemimpin organisasi yang kembali diadakan di tahun kedua ini setelah dibekukan tiga tahun lamanya oleh pihak rektorat kampus. Alih-alih seperti bocah berinjak usia 2 tahun yang mulai nampak tumbuh kembangnya, namun sangat berbeda dengan Pemira kali ini. Meskipun bisa dikatakan masih belia, Pemira 2026 kali ini bisa disebut hampir menemui ‘ajalnya’.

Berdasarkan data KPRM, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang terdata oleh Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) mencapai 1.422 mahasiswa. Namun hanya 219 mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya dengan pembagian jumlah pemilih dari Fakultas Ilmu Pendidikan Sosial (FIPS) 51 suara, Fakultas Ilmu Eksakta (FIE) 74 suara, dan Fakultas Agama Islam (FAI) 94 suara. Angka ini menunjukkan tingkat partisipasi hanya sekitar 15 persen, jauh dari tingkat partisipasi yang sehat dalam demokrasi kampus.

Selain itu, pilihan kandidat calon ketua dan wakil ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) 75% adalah kandidat tunggal dari 17 prodi. Hanya prodi Teknik Mesin, PIAUD, Psikologi Islam, dan Ekonomi Syari’ah yang mengusung kandidat ganda.Namun bukan HMPS saja mengalami banyak kandidat tunggal, hingga sekaliber BEM-U pun berkandidat tunggal.

Fenomena banjir golput juga berkaitan dengan banyaknya kandidat tunggal dalam Pemira. Para kandidat tunggal pun tak bergairah untuk kompetisi dalam “menjajakan” visi-misi nya dalam mencari suara sebanyak-banyaknya. Hal ini cenderung para pemilih pun adalah orang-orang terdekat yang telah mengenal baik. Disisi kandidat, gagasan pun dibuat hanya ‘sekedar’ formalitas. Para pemilih yang benar-benar ‘melek’ politik pun, tak memiliki pilihan alternatif dan pembanding.

Miskinnya bursa kandidat sebagai data bahwa mahasiswa tak minat untuk ambil bagian sebagai ‘nahkoda’ penentu arah gerak organisasi intra. Padahal, kampus memfasilitasi ruang-ruang sosial sebagai ‘laboratorium’ pembelajaran dan pendidikan secara utuh dan menyeluruh melalui pengalaman-pengalaman nyata. 

Organisasi mahasiswa sebenarnya menjadi ruang belajar kepemimpinan, membangun jejaring, serta melatih kemampuan berpikir kritis secara aktif dan kreatif. Mengingat seorang mahasiswa sebagai individu yang terpelajar untuk melakukan praktik baik dalam membawa kehidupan Masyarakat umum yang berkeadilan dan berperan kemajuan bangsa.

Wahab Firmansyah, Ketua KPRM, memberikan pernyataan saat ditemui setelah penghitungan suara. Menurutnya, fenomena banjir golput ditengarai sebab apatis mahasiswa terhadap perpolitikan di lingkungan kampus. 

Sikap acuh tak acuh dan tak mau tahu menyebabkan mahasiswa enggan berpartisipasi menggunakan hak suaranya.” tuturnya.

Perlu diketahui, demokrasi tak bisa berjalan dengan sehat apabila masyarakat yang menjadi tumpuan pengawas kekuasaan dan penentu pengambil kebijakan kolektif, menutup mata terhadap persoalan lalu dimanfaatkan pemimpin yang otoriter.

Sikap apatis juga muncul diakibatkan rasa kekecewaan terhadap kinerja-kinerja pengurus sebelumnya yang tak memiliki dampak dan berefek langsung terhadap keadaan kampus. Namun ditengah kemungkinan-kemungkinan ditengah gelapnya mendung, muncul cahaya asa dan optimis yang disampaikan oleh Indira, mahasiswa prodi Perbankan Syariah semester 4.

Saya berharap pemimpin yang terpilih bisa membawa kampus menjadi lebih baik dan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, tidak hanya ditampung tetapi juga direalisasikan,” ujarnya.

Pemira seharusnya menjadi ruang belajar demokrasi bagi mahasiswa. Namun rendahnya partisipasi dan maraknya kandidat tunggal menunjukkan bahwa demokrasi kampus sedang menghadapi tantangan serius. Jika kondisi ini terus dibiarkan, organisasi mahasiswa berpotensi kehilangan legitimasi sebagai representasi suara mahasiswa. Karena itu, momentum Pemira tahun ini seharusnya menjadi refleksi bersama bagi mahasiswa, penyelenggara Pemira, maupun pihak kampus untuk menghidupkan kembali tradisi demokrasi yang sehat di lingkungan UNU Blitar.

Penulis: Rahmatika Very  'Aghniya, Bima Dwi Baskara.

Editor: Chintya Putri Prasetyaningayu 


Comments


EmoticonEmoticon