![]() |
| Bukti telah melakukan pemilihan (Foto LPM Bhanu Tirta 09/03/2026) |
Persma Bhanu Tirta- Regenerasi kepemimpinan menjadi salah satu syarat utama keberlangsungan organisasi. Hal yang sama juga berlaku di lingkungan kampus, di mana organisasi mahasiswa membutuhkan pemimpin untuk menjalankan program sekaligus menjaga dinamika organisasi.
Di kampus, organisasi mahasiswa hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Himpunan Mahasiswa (HIMA), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Ormawa tidak hanya menjadi wadah aktivitas mahasiswa, tetapi juga ruang belajar kepemimpinan, diskusi, serta lahirnya gagasan perubahan.
Bukankah mahasiswa
sering disebut sebagai agen perubahan?
Pemira merupakan proses pemilihan pemimpin organisasi yang kembali
diadakan di tahun kedua ini setelah dibekukan tiga tahun lamanya oleh pihak
rektorat kampus. Alih-alih seperti bocah berinjak usia 2 tahun yang mulai
nampak tumbuh kembangnya, namun sangat berbeda dengan Pemira kali ini. Meskipun
bisa dikatakan masih belia, Pemira 2026 kali ini bisa disebut hampir menemui
‘ajalnya’.
Berdasarkan data KPRM, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang
terdata oleh Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) mencapai 1.422
mahasiswa. Namun hanya 219 mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya dengan pembagian
jumlah pemilih dari Fakultas Ilmu Pendidikan Sosial (FIPS) 51 suara, Fakultas
Ilmu Eksakta (FIE) 74 suara, dan Fakultas Agama Islam (FAI) 94 suara. Angka ini
menunjukkan tingkat partisipasi hanya sekitar 15 persen, jauh dari tingkat
partisipasi yang sehat dalam demokrasi kampus.
Selain itu, pilihan kandidat calon ketua dan wakil ketua
Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) 75% adalah kandidat tunggal dari 17
prodi. Hanya prodi Teknik Mesin, PIAUD, Psikologi Islam, dan Ekonomi Syari’ah
yang mengusung kandidat ganda.Namun bukan HMPS saja mengalami banyak kandidat
tunggal, hingga sekaliber BEM-U pun berkandidat tunggal.
Fenomena banjir golput juga berkaitan dengan banyaknya
kandidat tunggal dalam Pemira. Para kandidat tunggal pun tak bergairah untuk
kompetisi dalam “menjajakan” visi-misi nya dalam mencari suara sebanyak-banyaknya.
Hal ini cenderung para pemilih pun adalah orang-orang terdekat yang telah
mengenal baik. Disisi kandidat, gagasan pun dibuat hanya ‘sekedar’ formalitas.
Para pemilih yang benar-benar ‘melek’ politik pun, tak memiliki pilihan
alternatif dan pembanding.
Miskinnya bursa kandidat sebagai data bahwa mahasiswa tak minat untuk ambil bagian sebagai ‘nahkoda’ penentu arah gerak organisasi intra. Padahal, kampus memfasilitasi ruang-ruang sosial sebagai ‘laboratorium’ pembelajaran dan pendidikan secara utuh dan menyeluruh melalui pengalaman-pengalaman nyata.
Organisasi mahasiswa sebenarnya menjadi ruang
belajar kepemimpinan, membangun jejaring, serta melatih kemampuan berpikir
kritis secara aktif dan kreatif. Mengingat seorang mahasiswa sebagai
individu yang terpelajar untuk melakukan praktik baik dalam membawa kehidupan
Masyarakat umum yang berkeadilan dan berperan kemajuan bangsa.
Wahab Firmansyah, Ketua KPRM, memberikan pernyataan saat ditemui setelah penghitungan suara. Menurutnya, fenomena banjir golput ditengarai sebab apatis mahasiswa terhadap perpolitikan di lingkungan kampus.
“Sikap acuh tak acuh dan tak mau tahu menyebabkan mahasiswa enggan
berpartisipasi menggunakan hak suaranya.” tuturnya.
Perlu diketahui, demokrasi tak bisa berjalan dengan sehat
apabila masyarakat yang menjadi tumpuan pengawas kekuasaan dan penentu
pengambil kebijakan kolektif, menutup mata terhadap persoalan lalu dimanfaatkan
pemimpin yang otoriter.
Sikap apatis juga muncul diakibatkan rasa kekecewaan
terhadap kinerja-kinerja pengurus sebelumnya yang tak memiliki dampak dan
berefek langsung terhadap keadaan kampus. Namun ditengah
kemungkinan-kemungkinan ditengah gelapnya mendung, muncul cahaya asa dan
optimis yang disampaikan oleh Indira, mahasiswa prodi Perbankan Syariah semester 4.
“Saya berharap pemimpin yang terpilih bisa membawa kampus
menjadi lebih baik dan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan
aspirasi, tidak hanya ditampung tetapi juga direalisasikan,” ujarnya.
Pemira seharusnya menjadi ruang belajar demokrasi bagi
mahasiswa. Namun rendahnya partisipasi dan maraknya kandidat tunggal
menunjukkan bahwa demokrasi kampus sedang menghadapi tantangan serius. Jika
kondisi ini terus dibiarkan, organisasi mahasiswa berpotensi kehilangan
legitimasi sebagai representasi suara mahasiswa. Karena itu, momentum Pemira
tahun ini seharusnya menjadi refleksi bersama bagi mahasiswa, penyelenggara
Pemira, maupun pihak kampus untuk menghidupkan kembali tradisi demokrasi yang
sehat di lingkungan UNU Blitar.
Penulis: Rahmatika Very 'Aghniya, Bima Dwi Baskara.
Editor: Chintya Putri Prasetyaningayu
