KETIKA SEJARAH BERBICARA: KOEKSISTENSI DAMAI DI DUSUN GAMBARANYAR DAN WUJUDNYA DALAM HARI RAYA NATAL - LPM BHANU TIRTA

Monday, 29 December 2025

KETIKA SEJARAH BERBICARA: KOEKSISTENSI DAMAI DI DUSUN GAMBARANYAR DAN WUJUDNYA DALAM HARI RAYA NATAL

 

Silaturrahmi Umat Muslim ketika Perayaan Natal
di Dusun Gambaranyar 28/1225, (Foto: Andini)

Persma Bhanu Tirta - Tiga hari setelah perayaan Natal, suasana hangat dan penuh kebersamaan masih terasa di Dusun Gambaranyar, Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Di dusun ini, toleransi antarumat beragama bukan sekadar semboyan, melainkan warisan sejarah yang terus hidup dalam praktik sosial warganya, Minggu (28/12/2025).

Gambaranyar dihuni oleh masyarakat yang memeluk tiga agama: Islam, Kristen, dan Katolik. Warga mengutamakan kemanusiaan, gotong royong, dan solidaritas sosial dalam kehidupan sehari-hari. Perayaan Natal tahun ini menjadi bukti nyata semangat toleransi, tidak hanya umat Kristiani yang bersuka cita, warga Muslim juga turut hadir sebagai tamu undangan.

Tokoh agama Katolik dan pengurus gereja setempat, Yohana Sri Astuti Andayani, mengatakan  keterlibatan lintas agama dalam perayaan keagamaan sudah menjadi tradisi turun-temurun.

”Anak-anak muda sekarang harus terus menjalin hubungan meski berbeda keyakinan. Komunikasi dan saling bantu adalah kunci menjaga warisan toleransi ini,” ujar Yohana pada (28/12/25).

Sejarah Gambaranyar mencatat bahwa dusun ini terbentuk dari dua kampung yaitu, Kampung Baru dan Kampung Darungan. Kampung Baru dihuni oleh komunitas muslim dan kristen, sementara Kampung Darungan oleh muslim dan katolik. Setelah erupsi Gunung Kelud pada 1990, kedua kampung direlokasi dan disatukan menjadi satu wilayah bernama Kampunganyar.

Kepala Dusun Gambaranyar, Eko Novianto, menyebut bahwa sejak awal masyarakat sudah terbiasa hidup dalam keberagaman.

”Kami ini dari latar belakang berbeda, tapi kami punya tujuan yang sama, hidup damai dan saling membantu,” jelasnya.

Keberagaman itu bahkan terlihat dari rumah-rumah warga. Di dusun ini, masih ada satu rumah yang dihuni oleh anggota keluarga dengan agama berbeda. Mereka hidup rukun tanpa pernah mempersoalkan keyakinan masing-masing.

Sugeng, Ketua RW 13 mengingatkan pentingnya menjaga sikap dalam beragama. ”Fanatik boleh, tapi jangan dibawa ke perempatan. Bisa menimbulkan perseteruan,” ujarnya mengutip pepatah lokal yang sarat makna.

Dusun Gambaranyar menjadi bukti bahwa sejarah bisa melahirkan harmoni. Di tengah dunia yang kerap terpecah oleh perbedaan, dusun kecil ini menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk hidup damai justru menjadi kekuatan untuk saling menguatkan.

 

Penulis: Iim, Una, Alfan, Andini, Luluk

Editor: Fufut Shokhibul 



Comments


EmoticonEmoticon