Masa yang terdiri dari
berbagai organisasi kampus yang ada di Blitar memulai aksi dengan long march
dari eks Pasar Kanigoro menuju Kantor DPRD Kab. Blitar. Masa juga melakukan
pembentangan spanduk yang bertuliskan tuntutan yang hendak mereka sampaikan.
Sesampai didepan Kantor
DPRD, massa aksi langsung bergantian menyampaikan aspirasi dan tuntutan mereka.
Massa aksi menegaskan bahwa
Indonesia saat ini tengah dikepung oleh krisis kompleks. Mereka menyoroti
berbagai persoalan krusial, mulai dari tekanan stabilitas ekonomi,
membengkaknya beban fiskal negara, lemahnya tata kelola pemerintahan,
menyempitnya ruang demokrasi, hingga maraknya eksploitasi sumber daya alam
(SDA) yang berdampak nyata pada kesengsaraan rakyat.
Dalam orasi kali ini, massa
mendesak 11 poin tuntutan. Utamanya mendesak agar pemerintah mengevaluasi dan
menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa Merah Putih
(KDMP) jika terbukti membebani keuangan negara. Selain itu, mereka juga
menuntut stabilisasi harga bahan pokok, kesejahteraan tenaga pendidik, dan evaluasi
anggaran APBN/APBD.
Aksi ini berhasil membuat
salah satu pimpinan DPRD Kabupaten Blitar keluar untuk berdialog dengan massa, serta
memberikan janji langsung di depan puluhan massa. Pimpinan dewan tersebut
berjanji akan meneruskan 11 poin tuntutan mahasiswa ke pemerintah pusat dalam waktu paling lambat 5 hari kerja. Tidak
hanya itu, sebagai bentuk keterbukaan, pihak DPRD juga mengizinkan perwakilan
mahasiswa dari Cipayung Plus untuk ikut masuk dan mengawal langsung jalannya
rapat pembahasan tuntutan tersebut.
Di tengah jalannya aksi
yang dikawal ketat aparat keamanan, situasi sempat menegang karena faktor
kelelahan baik dari massa maupun aparat, sempat beredar kabar burung mengenai
adanya penangkapan salah satu peserta aksi. Namun, Koordinator Lapangan
(Korlap) Aksi, Santa Febriana, langsung meluruskan kesalah pahaman tersebut.
“Hari
ini sedikit keos. Mungkin dari teman-teman ada yang capek dan dari aparat juga
ada yang capek, seperti itu. Hal ini sudah biasa terjadi saat teman-teman
melakukan aksi,” ujar Santa Febriana saat diwawancarai di lokasi. Ia meminta
seluruh massa untuk tetap tenang, tidak terprovokasi, dan fokus pada substansi
11 tuntutan yang sedang diperjuangkan. Serta terus menyerukan satu komando,
satu tujuan.
Di akhir aksi, mahasiswa
berjanji apabila tuntutan ini diabaikan oleh para pemangku kebijakan, maka mereka
akan terus melakukan konsolidasi masif dan mengawal gerakan secara
konstitusional demi tegaknya demokrasi dan keadilan sosial di negara ini.
