Foto: Mahasiswa UNU Blitar menggeruduk Kampus 1 UNU Blitar dan menyuarakan tuntutan.
LPM
Bhanutirta – Sejumlah mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama
(UNU) Blitar menggelar Aksi Damai di depan Gedung Kampus 1 UNU Blitar. Aksi ini
buntut dari dua kali audiensi yang tidak menemukan titik terang. Aksi damai
yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiwa UNU Blitar sebagai bentuk kepedulian dan
tuntutan mahasiswa terhadap penanganan kasus kekerasan seksual dengan lebih
serius . Selasa (19/05/26).
Massa
memulai aksi dengan long march dari sisi utara Alun-alun Kota Blitar menuju
kampus 1 UNU Blitar sembari menyanyikan lagu-lagu perjuangan sebagai bentuk semangat
dan solidaritas. Aksi diwarnai dengan orasi menyuarakan keresahan para
mahasiswa terhadap tindakan oknum dosen yang diduga melakukan kasus kekerasan
seksual.
Kordinator
lapangan, Najib Zamzami, lewat orasinya mengatakan bahwa aksi ini didasari oleh
rasa kemanusiaan. Kampus seakan acuh terhadap kasus pelecehan yang sering
terjadi.
“Kampus
seolah-olah diam hingga ada pihak yang menormalisasikan kekerasan seksual ini,”
ungkapnya.
Ia
menegaskan bahwa aksi ini adalah langka lanjutan, buntut dari beberapa audiensi
sebelumnya yang belum menemukan kesepakatan.
“Kami
telah melakukan dua kali audiensi dengan pihak kampus, namun nyatanya terduga
pelaku dinonaktifkan sementara, yang bisa kembali mengajar kapan saja,”
pungkasnya.
Ahmad
Kafiy, selaku kordinator aksi, menuntut oknum dosen terduka pelaku kekerasan
seksual untuk dipecat secara tidak hormat dan memberikan perlindungan terhadap
korban dari ancaman dan diskriminasi akademik.
“Jikalau
tuntutan kami tidak terpenuhi, kami siap untuk memboikot pihak kampus dan
menyatakan ‘Mosi Tidak Percaya’,” ujarnya.
Ia
juga menyayangkan jika kampus yang seharusnya menjadi tempat aman untuk
berjalannya ruang intelektual malah menjadi sarang bagi predator seksual.
“Saya
merasa kecewa ketika kampus yang seharusnya menjadi ruang berdialektika malah
menjadi sarang predator seksual!” tegasnya.
Salah
satu orator yang mengenalkan dirinya sebagai mahasiswa dan aktivis pelajar NU, juga
ikut menyuarakan keresahan. Ia membacakan puisi satir berisi kritikan kepada
birokrasi kampus, berjudul ‘Kampus Hijau’.
Setelah
hampir 2 jam aksi berlangsung, Wakil Rektor 1 UNU Blitar, Mohamad Fatih, baru
turun menemui massa aksi. Dalam dialog tersebut Fatih mewakili rektorat
menandatangani surat permohonan yang diajukan mahasiswa.
Dalam
mediasi antara pihak rektorat dan mahasiswa, menghasilkan tandatangan Kotak
Kesepakatan Bersama. Inti poin-poinnya berisi tuntutan pemecatan secara tidak
hormat kepada pelaku Kekerasan Seksual, menjamin keamanan akademis dan
pendampingan psikis korban dengan serius.
Penulis: Bahrul
Editor: Farid Adrian