Suara lirih meraung kesakitan,
Lorong kampus tak lagi jadi tempat aman
Menoleh penderitaan
Menangis di atas mimpi sendiri
Kampusku bersimbur ketakutan,
Banyak senyum namun menyimpan kenyataan
Tangisan korban dianggap angin lalu
Redup suara, redup jiwa
Mulut dibungkam, luka dipaksa biasa
Sedih jika ilmu kehilangan nurani,
Saat ruang belajar berubah jadi mimpi keji
Keluhan selalu mengalir
Penderitaan datang bergilir
Langkah manusia dikontrol kuasa,
Bagai boneka yang tak mampu melawan
Merasakan sakit namun takut mengatakan
Semakin sengsara semakin diam; Pedih relung hati bagai tanah kering
Banyak yang larut dalam trauma,
Ditambah tatapan yang penuh menyalahkan
Banyak kisah tragis tak bisa diceritakan
Mereka tertawa, pelecehan di mana-mana,
Petinggi kadang menutup mata
Perlindungan ada di mana-mana,
Namun keadilan tak kunjung nyata
Harapan hanya menjadi kata
Sedang korban, terus hidup bersama luka.
Penulis: Adha Risky
Editor: Rahmatika Very