Bersahaja ia melangkah di lorong gelisah
membawa wibawa seolah tak tergoyah
menyampirkan kabar tanpa cermin kaca
ringan di tangan, berat di dada manusia.
Tak pernah terlintas wabah menjelma bara
membakar hari, menyesakkan udara
pilihan demi pilihan terus bersambung
tanpa sanjung, tanpa ujung, hanya menggulung.
Kebijakan berdiri di menara kata
keputusan ditimbang tanpa rasa
tanggung yang dijanjikan kian menjauh
palung masalah makin dalam, tak juga runtuh.
Mengapa seruan manusia tak pernah sampai?
suara berbaris, gugur sebelum usai
bagai angin lalu yang singgah sebentar
padahal beban dipikul punggung-punggung sabar.
Apakah cukup mulut menyulut harapan?
apakah kata sanggup menghapus tekanan?
Tengoklah ke bawah, di sana asa terkulai
digantung lelah, diikat gundah yang usai tak sampai.
Lihat manusia yang kian terhimpit
hari dihabiskan dalam kabut yang sempit
di antara makhluk transparan tak berperi
menelan damai, menggerogoti rezeki.
Sudahilah drama penumbuh angkara
jangan biarkan luka jadi warisan bangsa
bebaskan kembali denyut ekonomi negara
beri ruang bernapas bagi pencari asa.
Sebab, bukankah dulu lantang dikata
di mimbar janji yang penuh cahaya
negeri yang berdiri atas cinta
bukan sekadar kuasa yang lupa rasa.
Penulis: Adha Rizki Saputra
